4/14/20

Wow.. Oknum Kepala SMKN 1 Sungai Lilin Diduga Mark-Up Murid dan Anggaran Belanja Dibeberapa Komponen

Loading...
Musi Banyuasin|konkritnews.com
Dana BOS SMKN 1 Sungai Lilin, Kabupaten Musi Banyuasin, Tahun 2018 dan 2019 dengan nilai sebesar Rp 2.246.880.000,- terindikasi dugaan Mark-Up murid dan anggaran belanja.

Dengan cara Mark-Up murid pada saat pengajuan dana BOS, untuk mendapatkan dana lebih besar dari jumlah murid yang ada di sekolah, serta Mark-Up anggaran belanja di beberapa komponen, kuat dugaan itu semua ulah Oknum Kepala SMKN 1 Sungai Lilin, dan beberapa staff nya.

Pada tahun 2018, Pencairan dana BOS pada triwulan 1 adalah 692 murid, pada triwulan 2 adalah 686 murid, sedangkan jumlah murid pada tahun ajaran 2017/2018 semester genab adalah 685 murid.

Pada pencairan triwulan 3 adalah 686 murid, pada triwulan 4 adalah 854 murid, sedangkan jumlah murid pada tahun ajaran 2018/2019 semester ganjil adalah 762 murid, total dugaan Mark-Up murid pada tahun 2018 adalah 25 murid.

Pada tahun 2019, Pencairan dana BOS pada triwulan 1 adalah 762 murid, pada triwulan 2 adalah 762 murid, sedangkan jumlah murid pada tahun ajaran 2018/2019 semester genab adalah 739 murid.

Pada pencairan triwulan 3 adalah 762 murid, pada triwulan 4 adalah 820 murid, sedangkan jumlah murid pada tahun ajaran 2019/2020 semester ganjil adalah 756 murid, total dugaan Mark-Up murid pada tahun 2019 adalah 139 murid.

seharusnya, dana sejumlah 169 murid dengan total dana sebesar Rp. 51.480.000,- tersebut seharusnya dikembalikan ke kas Negara, selambat lambatnya pada Januari tahun berikutnya.

Namun, hal itu tidak dilakukan oleh Oknum Kepala SMKN 1 Sungai Lilin, Jaidan Jauhari, S.Pd., M.T, dan selaku kuasa pengguna anggaran, bahkan dengan sengaja merahasiakan lebih jalur dana BOS tersebut.

Tak hanya itu, dugaan korupsi dana BOS berlanjut pada anggaran belanja di beberapa komponen, seperti komponen nomor 1 yaitu, pengembangan perpustakaan, dana pembelian buku kurikulum 13 untuk murid sebesar Rp. 383.287.000,- hanya mendapatkan buku 1.403 eksemplar saja.

Selanjutnya, komponen nomor 8 yaitu, pemeliharaan dan perawatan Sarana dan Prasarana sekolah sebesar Rp. 129.040.000,-.
Komponen nomor 10 yaitu, pembelian alat multi media pembelajaran sebesar Rp. 123.280.000,-.

Dalam hal ini, Anggaran di tiga komponen tahun 2018 tersebut, tidak di yakini kebenarannya.

Selain itu, pada tahun 2019 adalah komponen nomor 1, sebesar Rp. 236.190.300,- haya mendapatkan buku 2.475 eksemplar saja. Komponen nomor 6 yaitu, kegiatan evaluasi pembelajaran sebesar Rp. 36.070.000,-.

Komponen nomor 8 yaitu, pemeliharaan dan perawatan sarana dan Prasarana sekolah sebesar Rp. 410.664.500,-. Komponen nomor 10 yaitu, pembelian alat multi media pembelajaran sebesar Rp. 92.617.600,-.

Anggaran di empat komponen tahun 2019 tersebut juga tidak di yakini kebenarannya.

Diduga semua itu adalah modus Oknum Kepsek, Jaidan Jauhari, bersama beberapa staff nya saja, utuk mengelabui pemerintah dan masyarakat agar dapat meraup keuntungan besar guna memperkaya diri.

Pada saat di konfirmasi melalui, pesan WhatsApp, pada tanggal 3 April 2020, mengatakan, "Maaf pak bukan saya mau menghalangi, saya sudah konfirmasi sama Kepala Sekolah, dan kata Kepala Sekolah kalau memang bapak mau bertanya atau tau masalah BOS, silahkan bapak ke Sekolah saja, nanti akan ditemuin saya Kepala Sekolah dan Bendaharanya. Bapak harap maklum juga dengan posisi saya. Nanti saya akan sampaikan kepada Kepala Sekolahnya pak," kata pihak sekolah.

Setelah diberikan penjelasan terkait keadaan saat ini, pihak sekolah memberikan nomor telepon dan mengatakan melalui Pesan WhatsApp, "Telpon nomor ini saja kalau mau konfirmasi, itu amanah dari pak Zaidan pak," tutupnya.

Setelah dihubungi nomor telepon yang diberikan oleh pihak sekolah, yang katanya itu amanah Kepala Sekolah, ternyata seorang LSM wilayah Musi Banyuasin.

Kepada Dinas terkait dan kepada penegak hukum agar dapat menindaklanjuti terkait dugaan Korupsi dana BOS di SMKN 1 Sungai Lilin, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan, yang rugikan Negara hingga ratusan juta rupiah, untuk memberikan efek jera agar virus serupa tidah merambah ke Sekolah lain.
(ABDULLAH/SAMIDI/KN/RED)

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.