KONKRIT NEWS
Selasa, Agustus 25, 2026, 18:02 WIB
Last Updated 2026-08-25T11:02:21Z
Bandar LampungDaerahNasional

Merawat Warisan Keteladanan Rasulullah SAW sebagai Kompas Moral Kehidupan Berbangsa

Advertisement

 


Oleh: H. Tony Eka Candra
Ketua DPD GRANAT Provinsi Lampung, Ketua PD VIII KB FKPPI Provinsi Lampung


Putaran waktu kembali mengantarkan kita pada bulan yang penuh rahmat, Rabiul Awal. Tepat pada 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah, yang bertepatan dengan tahun 2026 Masehi, umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Tanah Air, kembali menundukkan hati untuk memperingati kelahiran sosok manusia paling mulia, Nabi Muhammad SAW.


Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sejatinya bukan sekadar perayaan seremonial tahunan yang berlalu tanpa jejak. Lebih dari itu, momentum ini merupakan oase spiritual sekaligus panggilan nurani untuk kembali menyelami samudra keteladanan Rasulullah SAW.


Di tengah derasnya arus globalisasi dan kompleksitas kehidupan modern, ketika masyarakat dihadapkan pada tantangan dekadensi moral, krisis kepercayaan, hingga ancaman terhadap persatuan, keteladanan Rasulullah SAW tetap relevan sebagai kompas moral dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.


Sejarah mencatat dengan tinta emas bagaimana seorang yatim piatu dari tanah Arab mampu mengubah wajah peradaban dunia. Rasulullah SAW tidak menaklukkan hati manusia dengan kekerasan, melainkan dengan kelembutan akhlak, kejujuran, kasih sayang, kebijaksanaan, dan keluhuran budi pekerti.


Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an bahwa Rasulullah SAW diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan lil 'Alamin). Karena itu, warisan terbesar beliau bukan hanya ajaran yang disampaikan, tetapi juga akhlak mulia yang harus terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari.


Integritas dan Kejujuran yang Mengakar


Keteladanan pertama yang sangat relevan untuk diwujudkan adalah siddiq dan amanah, yakni kejujuran dan dapat dipercaya.


Jauh sebelum diangkat menjadi Rasul, masyarakat Makkah telah memberikan gelar Al-Amin, yang berarti orang yang dapat dipercaya, kepada Nabi Muhammad SAW. Gelar tersebut menunjukkan bahwa integritas merupakan modal utama dalam membangun kepercayaan dan tatanan sosial yang sehat.


Di tengah kehidupan modern yang penuh dengan berbagai godaan, kejujuran terkadang menjadi sesuatu yang semakin mahal. Keteladanan Rasulullah SAW mengajarkan bahwa setiap bentuk pengabdian, baik sebagai pemimpin, tokoh masyarakat, aparatur negara maupun warga biasa, harus dilandasi niat yang tulus, kejujuran, dan tanggung jawab.


Kepercayaan masyarakat hanya akan tumbuh apabila ucapan selaras dengan perbuatan dan kewenangan dijalankan dengan penuh amanah.


Kepedulian Sosial dan Perlindungan Generasi


Rasulullah SAW merupakan sosok yang sangat peduli terhadap penderitaan umat. Beliau menyayangi anak yatim, menghormati orang yang lebih tua, menyayangi generasi muda, serta senantiasa membela dan mengangkat harkat martabat kaum yang lemah.


Dalam konteks kehidupan saat ini, semangat kasih sayang tersebut harus diwujudkan melalui kepedulian nyata terhadap lingkungan dan sesama.


Kita memiliki tanggung jawab bersama untuk melindungi generasi penerus bangsa dari berbagai ancaman yang dapat merusak masa depan mereka, termasuk penyalahgunaan narkotika, pergaulan yang tidak sehat, kekerasan, serta berbagai pengaruh negatif lainnya.


Membangun masyarakat dan bangsa yang kuat harus dimulai dari menyelamatkan, mendidik, membina, dan memberikan ruang tumbuh yang sehat bagi generasi muda.


Kebijaksanaan dalam Merawat Persatuan


Keteladanan berikutnya adalah fathonah, yakni kecerdasan dan kebijaksanaan dalam menghadapi persoalan kehidupan.


Nabi Muhammad SAW juga merupakan seorang pemimpin dan negarawan yang menunjukkan bagaimana persatuan dapat dibangun di tengah masyarakat yang majemuk. Melalui Piagam Madinah, Rasulullah SAW memberikan teladan tentang pentingnya membangun kehidupan bersama berdasarkan prinsip dialog, keadilan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap perbedaan.


Nilai-nilai tersebut sangat relevan dengan kondisi bangsa Indonesia yang memiliki keragaman suku, agama, ras, budaya, dan latar belakang sosial.


Perbedaan tidak semestinya menjadi sumber pertentangan, tetapi harus menjadi kekuatan untuk membangun harmoni. Toleransi, gotong royong, persaudaraan, dan saling menghormati merupakan modal sosial yang harus terus dirawat demi menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.


Cinta Rasul Harus Diwujudkan dalam Perbuatan


Mencintai Rasulullah SAW tidak cukup hanya diwujudkan melalui lantunan selawat di bibir. Kecintaan kepada beliau harus tercermin dalam akhlak, sikap, dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari.


Kita dituntut untuk menjadi pribadi yang memberikan manfaat bagi sesama, menghadirkan solusi atas persoalan di lingkungan sekitar, menjaga persaudaraan, serta menebarkan kedamaian di mana pun berada.


Semangat khairunnas anfa'uhum linnas—sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya—harus menjadi salah satu prinsip dalam membangun kehidupan sosial yang lebih baik.


Menjadikan Maulid sebagai Momentum Introspeksi


Pada momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabiul Awal 1448 H, saya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan peringatan ini bukan hanya sebagai tradisi, tetapi sebagai momentum introspeksi dan memperbaiki kualitas diri.


Mari kita hidupkan kembali nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW dalam keluarga, lingkungan masyarakat, dunia pendidikan, kehidupan sosial, hingga dalam penyelenggaraan pemerintahan dan kehidupan berbangsa.


Semoga kita mampu menjadi pribadi yang lebih jujur, amanah, peduli, bijaksana, serta senantiasa menjaga persatuan dan kedamaian.


Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabiul Awal 1448 H.


Semoga keberkahan, kedamaian, kasih sayang, dan persaudaraan senantiasa menyertai langkah kita semua. Semoga kita termasuk umat yang senantiasa mendapatkan syafaat Rasulullah SAW di yaumil akhir.


Semoga Allah SWT senantiasa memberikan bimbingan dan kekuatan kepada kita agar tetap istiqamah berada di jalan yang diridai-Nya.


Shallallahu 'ala Muhammad.


Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq. Fastabiqul khairat.