10/25/18

Hilangnya Kasih Berkasih

Loading...
Penulis: Riza Rahmayadi, Kader HmI 


Konkritnews.com - INDONESIA ku sayang Indonesia ku malang. Itu lebih tepat menyiratkan kondisi Indonesia hari ini. Pasalnya, Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar dan rujukan menyatukan seluruh Kebinekaragaman, perlahan luntur bahkan musnah lusuh tak terawat.

Ada apa kita ini? Bersaudara tapi bertikai, berteman tapi saling membunuh, berkeluarga tapi hilang timbang rasa. Ingatlah aku ini betul-betul saudaramu yang menjunjung persatuan dan kesatuan bukankah itu sering kita dengungkan dalam upacara bendera, pada saat pembina upacara bertahap menyebutkan isi per isi yaitu poin ke-3 "Persatuan Indonesia" 

Ya.. persatuan, persatuan, persatuan. Itulah yang menguatkan kemajemukan kita. Seketika berjatuhan air mataku menyaksikan pertikaian yang selalu diumbar ingat  kita adalah saudara!  Saudara sungguhan yang disatukan dalam kebhinekaan, tapi lamban laun hilang rasa, ketika kita berbeda.

Bukankah cengkraman Burung Garuda itu selalu kita ucapkan ketika kita duduk di taman siswa dulu? Ya dulu, ketika kita tak mengenal permusuhan, aku tak lupa dalam cengkraman Garuda itu nampak jelas menuliskan "Bhineka Tunggal Ika" yang tak salah artinya "Berbeda-beda tetapi tetap satu" bukan kah begitu saudaraku?

Kau mendengungkan toleransi, aku menjalankan toleransi kau tuduh anti NKRI, aku bersatu dengan koloni ku, kau sebut aku tak tahu malu.

Apa perlu setiap waktu mengingatkanmu? Aku ini betul-betul saudaramu, bahkan se akidah dengan mu, kita selalu bersandar kepada Alquran dan Sunnah, saudaraku, pahamilah.

Bukan kah kita dipelihara rasa persatuan Dalam surat alhujurat ayat 13 menjelaskan tentang persatuan itu:

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."

Kutambahkan lagi agar kau semakin mengerti. Kebebasan berekspresi yang kita jalankan  selalu bersandar dan berpedoman itu jelas termaktub dalam UUD 1945 pasal 27 ayat 1 "Segala warga negara bersamaan hak dan kedudukan di muka hukum dan pemerintahan dan wajib menaati hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecuali nya."

Itu rujukan yang kita maknai dalam persatuan dan kesatuan yang tertuang dalam dasar negara kita kurang NKRI apalagi aku ini.

Hmm.. Bahkan lafadz yang sering kita ucapkan dalam menunaikan kewajiban kau sebut itu milik ormas yang tak mencintai negri ini, hancur sudah hatiku kau rampas kau musnahkan tanpa kaji, kau bakar dengan wajah dan perilaku bersenda gurau.

Bukankah  Sayidina Ali bin Abi Thalib pernah berkata: "Apabila kau membedakan keturunan tentu keturunan kita sama, dari ayah Adam dan ibu kita hawa,apabila engkau membedakan asal tentu asal kita sama  tanah dan  Air."

Tapi inilah ghirah cemburu kita kepada Allah, kecintaan akan kalimat awal kita mengenal nya dengan melafalkan "La Ilaha Illallah (Tiada Tuhan selain Allah).

Aku mohon cukup. Dan aku benar-benar saudaramu, pahamilah agar kita tak akan terpecah belah. Ayolah mengaji bersamaan.

Kita bukan sedang membahas kritik Mark dan Hiegl, bahkan bencinya Hitler dengan etnis serabutan. Ini tentang kita yang betul bersaudara tanpa di bedakan dengan bendera dan siapa pemilik bahtera.

Tinggilah timbang rasa mu, pelihara lah kasih sayangmu. Yang menyayangimu.
Saudara seakidahmu.(*)

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.