KONKRIT NEWS
Rabu, November 12, 2025, 14:10 WIB
Last Updated 2025-11-12T07:10:31Z
Bandar Lampung

Marsinah, Perlawanan yang Tak Pernah Padam

Advertisement


Oleh: Hermawan

Nama Marsinah kembali menggema setelah pemerintah akhirnya menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada sosok buruh perempuan itu pada 10 November 2025. Gelar ini datang terlambat, lebih dari tiga dekade setelah kematiannya yang tragis. Namun, penghargaan ini tetap bermakna besar, bukan hanya sebagai bentuk pengakuan negara, tetapi juga sebagai penebusan moral atas luka sejarah yang lama diabaikan.


Perlawanan yang Dibungkam


Marsinah bukan sekadar buruh pabrik biasa. Ia adalah simbol keberanian dan kesadaran kelas pekerja terhadap hak-haknya di tengah sistem yang timpang. Di tahun 1993, ketika banyak buruh takut bersuara, Marsinah berdiri di barisan terdepan memperjuangkan hak teman-temannya di PT Catur Putra Surya (CPS), Sidoarjo.

Ia menolak tunduk pada ketidakadilan. Ia melawan, bukan dengan kekerasan, tetapi dengan suara dan keberanian. Dalam rapat-rapat buruh, ia menuntut perusahaan menjalankan kebijakan kenaikan upah minimum sebagaimana perintah Gubernur Jawa Timur. Dalam aksinya, ia percaya: keadilan harus diperjuangkan, bukan ditunggu.


Namun, perjuangan itu dibalas dengan kekerasan. Setelah mogok kerja besar-besaran pada Mei 1993, Marsinah diculik dan kemudian ditemukan tewas dengan luka penyiksaan. Sebuah nyawa yang dipadamkan hanya karena ia berani menuntut kebenaran.


Keadilan yang Tak Pernah Ditemukan


Ironisnya, kasus Marsinah menjadi cermin buram penegakan hukum di negeri ini. Penyelidikan dilakukan, tersangka ditangkap, bahkan dihukum tetapi kemudian dibebaskan tanpa kejelasan. Negara gagal menghadirkan kebenaran.

Hingga kini, tak ada satu pun pelaku yang benar-benar bertanggung jawab atas kematian Marsinah. Ia dibungkam secara fisik, tapi suara perlawanan yang ditinggalkannya justru terus hidup, bergema di setiap aksi buruh, di setiap jerit keadilan yang tak tersampaikan.


Gelar Pahlawan: Simbol Pengakuan, Bukan Akhir Perjuangan


Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Marsinah bukanlah akhir dari perjuangannya, melainkan awal dari tanggung jawab baru bangsa ini untuk memperjuangkan keadilan bagi kaum tertindas.

Negara akhirnya mengakui bahwa perjuangan buruh bukan sekadar urusan ekonomi, tetapi juga perjuangan kemanusiaan. Marsinah kini berdiri sejajar dengan tokoh-tokoh besar lain dalam sejarah republik ini, meski langkahnya dulu berawal dari pabrik kecil di Sidoarjo.


Warisan Perjuangan


Generasi hari ini harus belajar dari Marsinah: bahwa keberanian untuk melawan ketidakadilan adalah bentuk cinta tertinggi terhadap kemanusiaan.

Marsinah telah tiada, tetapi semangatnya tetap hidup dalam setiap perjuangan buruh yang menuntut haknya, dalam setiap perempuan yang berani bersuara, dan dalam setiap insan yang menolak tunduk pada penindasan.


Marsinah memang telah dibungkam, namun gagasannya tidak pernah padam.

Dan kini, lewat gelar Pahlawan Nasional, sejarah akhirnya menempatkannya di tempat yang semestinya: di hati rakyat, bukan di arsip keheningan.